Seorang tua sedang merenung. "Dulu saya lahir dari keluarga
miskin. Ketika melihat orang kaya, saya bertanya-tanya mengapa
mereka egois, tidak mau menolong orang miskin memperbaiki masa
depan, bahkan tak jarang malah memandang rendah? Namun, ketika
kemudian saya menjadi kaya setelah bekerja keras, saya merasa orang
miskin itu malas, tak mau berinisiatif, maunya ditolong, iri, dan
tak pernah berterima kasih?" Pak tua itu menggeleng-geleng menyadari
kontradiksi di hati dan perasaannya. Mengapa begini?
Tak jarang dalam hidup ini, kita memiliki standar ganda dalam
"menakar dan mengukur". Kita kerap menilai orang lain dari "takaran"
atau pandangan subjektif kita, dan tak mampu memahami orang lain
dari sudut pandang orang itu. Kita kerap menuntut orang lain
bersikap dan berbuat seperti yang kita mau, padahal kita sendiri
belum tentu melakukan yang sebaliknya. Ketika berbuat salah, kita
tak ingin dihakimi. Sebaliknya, ingin dimaafkan dan dibantu keluar
dari kesalahan. Ketika membeli, kita menginginkan barang yang
berkualitas dengan harga bagus, dan akan sangat marah jika
dibohongi. Ketika susah, kita ingin orang lain menolong.
Apabila kita rindu tidak dihakimi, biarlah kita jangan menghakimi.
Apabila kita rindu dimaafkan ketika bersalah, biarlah kita jangan
menghukum, tetapi mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Sebab
ukuran yang kita pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepada kita.
Perhatikan ayat 38 "berilah": pengampunan, maaf, kesabaran,
kebaikan, pengertian, dukungan, kekuatan, kesempatan, pertolongan.
"... dan kamu akan diberi, " demikian sabda Kristus. Mau bukti? Coba
terapkan janji Tuhan ini --SST
JALANI HIDUP SEBAGAIMANA KITA HARAP ORANG LAIN JALANI
MAKA ITU PULALAH YANG AKAN KITA DAPATI
sumber:Yayasan Gloria
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Senin, 30 Mei 2011
Rabu, 25 Mei 2011
DI ANGGAP BAIK
Penelitian selama 25 tahun di Universitas Tel Aviv mendapati bahwa
kinerja seseorang sangat dipengaruhi oleh pengharapan orang lain
atas kinerjanya. Dalam satu percobaan, manajer sebuah kantor cabang
bank dibagi dua. Kelompok A diberi tahu bahwa karyawan mereka luar
biasa; kelompok B tidak diberi tahu apa-apa tentang potensi karyawan
mereka. Sebenarnya potensi kedua kelompok karyawan itu sama.
Nyatanya, manajer kelompok A membuahkan hasil yang lebih bagus, baik
dari laba maupun kesuksesan ekonomis secara menyeluruh. Hal serupa
ditemukan juga di sekolah, kalangan militer, dan berbagai badan
sosial lain.
Pengharapan yang baik mengandung daya ubah yang luar biasa. Prinsip
itu bersumber dari Allah sendiri, seperti yang dapat kita pelajari
ketika Dia "mengubah" bangsa Israel yang dibuang ke Babel. Pertama,
Dia "menganggap" mereka seperti buah ara yang bagus (ayat 5). Mereka
tidak baik, tetapi Dia menganggap mereka baik dan memperlakukan
mereka dengan baik (bandingkan dengan Roma 4:5). Sesudah itu, Dia
"memberi mereka suatu hati untuk mengenal Aku" (ayat 7). Dia
mengubahkan hati mereka sehingga mereka menjadi umat Allah yang
sungguh-sungguh. Bukankah itu anugerah pembenaran dan kelahiran
kembali?
Lalu, bagaimana menerapkannya secara horisontal? Kita ingin anak,
murid, karyawan, dan tetangga kita semua baik, tetapi bisa jadi
mereka menjengkelkan. Maukah kita lebih dulu mengasihi mereka,
mengharapkan yang terbaik dari mereka (1 Korintus 13:5), menganggap
mereka baik, dan memperlakukan mereka dengan baik? --ARS
HAL-HAL YANG TIDAK INDAH PERLU DIKASIHI SUNGGUH-SUNGGUH
SEBELUM BERUBAH INDAH DAN MENAWAN HATI-G.K. CHESTERTON
*sumber Yayasan Gloria
kinerja seseorang sangat dipengaruhi oleh pengharapan orang lain
atas kinerjanya. Dalam satu percobaan, manajer sebuah kantor cabang
bank dibagi dua. Kelompok A diberi tahu bahwa karyawan mereka luar
biasa; kelompok B tidak diberi tahu apa-apa tentang potensi karyawan
mereka. Sebenarnya potensi kedua kelompok karyawan itu sama.
Nyatanya, manajer kelompok A membuahkan hasil yang lebih bagus, baik
dari laba maupun kesuksesan ekonomis secara menyeluruh. Hal serupa
ditemukan juga di sekolah, kalangan militer, dan berbagai badan
sosial lain.
Pengharapan yang baik mengandung daya ubah yang luar biasa. Prinsip
itu bersumber dari Allah sendiri, seperti yang dapat kita pelajari
ketika Dia "mengubah" bangsa Israel yang dibuang ke Babel. Pertama,
Dia "menganggap" mereka seperti buah ara yang bagus (ayat 5). Mereka
tidak baik, tetapi Dia menganggap mereka baik dan memperlakukan
mereka dengan baik (bandingkan dengan Roma 4:5). Sesudah itu, Dia
"memberi mereka suatu hati untuk mengenal Aku" (ayat 7). Dia
mengubahkan hati mereka sehingga mereka menjadi umat Allah yang
sungguh-sungguh. Bukankah itu anugerah pembenaran dan kelahiran
kembali?
Lalu, bagaimana menerapkannya secara horisontal? Kita ingin anak,
murid, karyawan, dan tetangga kita semua baik, tetapi bisa jadi
mereka menjengkelkan. Maukah kita lebih dulu mengasihi mereka,
mengharapkan yang terbaik dari mereka (1 Korintus 13:5), menganggap
mereka baik, dan memperlakukan mereka dengan baik? --ARS
HAL-HAL YANG TIDAK INDAH PERLU DIKASIHI SUNGGUH-SUNGGUH
SEBELUM BERUBAH INDAH DAN MENAWAN HATI-G.K. CHESTERTON
*sumber Yayasan Gloria
Kamis, 19 Mei 2011
BAGI KEPENTINGAN TUHAN
Nick Vujicic, dilahirkan dengan cacat langka yang disebut
tetra-amelia. Ia tak punya lengan mulai dari bahu, dan hanya
memiliki satu kaki kecil dengan dua jari yang tumbuh dari paha
kirinya. Di luar kekurangan itu, Vujicic sangat sehat. Namun, ketika
sudah bersekolah, tak urung ke-kurangan fisiknya menjadi pusat
olokan. Ia sampai memohon agar Tuhan menumbuhkan tangan dan kakinya.
Namun, kondisi tak berubah. Ia pun depresi. Pada usia 8 tahun, ia
pernah mencoba bunuh diri.
Pada waktu Tuhan yang tepat, ia dimampukan untuk memandang hidupnya
secara baru: dalam kondisinya itu, Tuhan justru dapat memakainya
menjadi inspirasi bagi banyak orang. Maka, ia menyerahkan hidup
untuk melayani Tuhan di banyak negara. "Jika saya dapat memercayai
Tuhan dalam keadaan saya, Anda pun dapat memercayai Tuhan dalam
keadaan Anda, " simpulnya. Tuhan pun memampukannya meraih banyak
pencapaian-bahkan dalam beberapa hal ia lebih baik daripada orang
normal.
Vujicic memercayai rencana Tuhan yang baik baginya. Bahwa hidup
bukan demi kepentingannya pribadi, melainkan kepentingan Tuhan. Apa
pun kondisinya, ia dapat melayani Tuhan dengan cara dan kesempatan
terbaik yang ia miliki. Pekerjaan Allah pun dinyatakan di dalam dia.
Seperti yang Tuhan kerjakan dalam hidup Bartimeus yang buta sejak
lahir. Tuhan dimuliakan lewat hidupnya. Kini giliran kita. Tujuan
hidup kita pun bukan demi kenyamanan atau kesuksesan pribadi kita.
Akan tetapi, untuk kemuliaan-Nya. Pandanglah hidup secara demikian.
Maka, tak ada hidup yang tak berguna. Sebaliknya, setiap hidup dapat
menjadi alat berharga bagi kemuliaan-Nya yang kekal --AW
SETIAP HIDUP PASTI BERGUNA
BILA DIBERIKAN MENJADI TEMPAT TUHAN BERKARYA
sumber:yayasan Gloria
tetra-amelia. Ia tak punya lengan mulai dari bahu, dan hanya
memiliki satu kaki kecil dengan dua jari yang tumbuh dari paha
kirinya. Di luar kekurangan itu, Vujicic sangat sehat. Namun, ketika
sudah bersekolah, tak urung ke-kurangan fisiknya menjadi pusat
olokan. Ia sampai memohon agar Tuhan menumbuhkan tangan dan kakinya.
Namun, kondisi tak berubah. Ia pun depresi. Pada usia 8 tahun, ia
pernah mencoba bunuh diri.
Pada waktu Tuhan yang tepat, ia dimampukan untuk memandang hidupnya
secara baru: dalam kondisinya itu, Tuhan justru dapat memakainya
menjadi inspirasi bagi banyak orang. Maka, ia menyerahkan hidup
untuk melayani Tuhan di banyak negara. "Jika saya dapat memercayai
Tuhan dalam keadaan saya, Anda pun dapat memercayai Tuhan dalam
keadaan Anda, " simpulnya. Tuhan pun memampukannya meraih banyak
pencapaian-bahkan dalam beberapa hal ia lebih baik daripada orang
normal.
Vujicic memercayai rencana Tuhan yang baik baginya. Bahwa hidup
bukan demi kepentingannya pribadi, melainkan kepentingan Tuhan. Apa
pun kondisinya, ia dapat melayani Tuhan dengan cara dan kesempatan
terbaik yang ia miliki. Pekerjaan Allah pun dinyatakan di dalam dia.
Seperti yang Tuhan kerjakan dalam hidup Bartimeus yang buta sejak
lahir. Tuhan dimuliakan lewat hidupnya. Kini giliran kita. Tujuan
hidup kita pun bukan demi kenyamanan atau kesuksesan pribadi kita.
Akan tetapi, untuk kemuliaan-Nya. Pandanglah hidup secara demikian.
Maka, tak ada hidup yang tak berguna. Sebaliknya, setiap hidup dapat
menjadi alat berharga bagi kemuliaan-Nya yang kekal --AW
SETIAP HIDUP PASTI BERGUNA
BILA DIBERIKAN MENJADI TEMPAT TUHAN BERKARYA
sumber:yayasan Gloria
Sabtu, 30 April 2011
BAYANG-BAYANG GELAP
Bacaan : Hosea 1:2-9
Setahun: 1 Tawarikh 9-11
Nats: ... maka kegelapan pun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam
menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang
(Mazmur 139:12)
Pemuda itu sedih akibat perlakuan teman-teman di gereja. Mereka
menjauhinya karena tahu ayahnya berselingkuh. Ibunya mengajukan
cerai. Semua orang memperbincangkan isu itu. Lalu mempersoalkan
keaktifannya di kepengurusan pemuda. Ia menemui pendeta,
menyampaikan kesedihan sekaligus kebimbangannya. Ia bertanya,
"Apakah saya tidak layak lagi melayani karena keluarga saya
berantakan?" Pemuda ini tidak sendirian. Banyak orang tidak yakin
pada dirinya akibat bayang-bayang gelap keluarganya.
Alkitab menyingkapkan dengan jujur kehidupan Hosea. Gomer, perempuan
yang dinikahinya, tidak setia. Dari tiga anak yang dilahirkannya,
hanya si sulung yang membawa benih Hosea. Dari nama-nama mereka,
tercermin bahwa kedua anak berikutnya bukan keturunan nabi itu (ayat
6 dan 9). Hosea harus menelan kenyataan pahit memiliki anak-anak
dari buah perzinahan istrinya. Namun, dengan cara-Nya, Tuhan memakai
situasi kelam itu sebagai gambaran ketidaksetiaan Israel kepada-Nya.
Sekaligus, kesetiaan Hosea melukiskan kasih dan kesetiaan Tuhan
sendiri. Artinya, dalam segala keburukan kondisi keluarganya, Tuhan
tetap memakai Hosea.
Dalam kenyataan, banyak keluarga berantakan karena ada anggota
keluarga yang "tidak berjalan di relnya". Suami yang masuk penjara.
Istri yang berselingkuh. Ayah yang pemabuk. Anak yang terjerat
narkoba. Akibatnya, anggota keluarganya harus menelan kenyataan
pahit. Namun, apa mereka tidak layak diberi peran karenanya? Apakah
adil jika mereka ikut "dihukum"? Syukurlah, Tuhan tidak terhalang
memakai hamba-Nya walau ada latar belakang keluarga yang hitam.
Kalau Tuhan saja tidak, mestinya kita juga tidak --PAD
TIDAK ADA KEGELAPAN
YANG DAPAT MENGHALANGI TERANG TUHAN BERSINAR
Hosea 1:2-9
2 Ketika TUHAN mulai berbicara dengan perantaraan Hosea,
berfirmanlah Ia kepada Hosea: "Pergilah, kawinilah seorang
perempuan sundal dan peranakkanlah anak-anak sundal, karena
negeri ini bersundal hebat dengan membelakangi TUHAN."
3 Maka pergilah ia dan mengawini Gomer binti Diblaim, lalu
mengandunglah perempuan itu dan melahirkan baginya seorang anak
laki-laki.
4 Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Hosea: "Berilah nama Yizreel
kepada anak itu, sebab sedikit waktu lagi maka Aku akan
menghukum keluarga Yehu karena hutang darah Yizreel dan Aku akan
mengakhiri pemerintahan kaum Israel.
5 Maka pada waktu itu Aku akan mematahkan busur panah Israel di
lembah Yizreel."
6 Lalu perempuan itu mengandung lagi dan melahirkan seorang anak
perempuan. Berfirmanlah TUHAN kepada Hosea: "Berilah nama
Lo-Ruhama kepada anak itu, sebab Aku tidak akan menyayangi lagi
kaum Israel, dan sama sekali tidak akan mengampuni mereka.
7 Tetapi Aku akan menyayangi kaum Yehuda dan menyelamatkan mereka
demi TUHAN, Allah mereka. Aku akan menyelamatkan mereka bukan
dengan panah atau pedang, dengan alat perang atau dengan kuda
dan orang-orang berkuda."
8 Sesudah menyapih Lo-Ruhama, mengandunglah perempuan itu lagi dan
melahirkan seorang anak laki-laki.
9 Lalu berfirmanlah Ia: "Berilah nama Lo-Ami kepada anak itu,
sebab kamu ini bukanlah umat-Ku dan Aku ini bukanlah Allahmu."
Ditulis oleh penulis-penulis Indonesia
Diterbitkan dan Hak Cipta (c) oleh Yayasan Gloria
Setahun: 1 Tawarikh 9-11
Nats: ... maka kegelapan pun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam
menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang
(Mazmur 139:12)
Pemuda itu sedih akibat perlakuan teman-teman di gereja. Mereka
menjauhinya karena tahu ayahnya berselingkuh. Ibunya mengajukan
cerai. Semua orang memperbincangkan isu itu. Lalu mempersoalkan
keaktifannya di kepengurusan pemuda. Ia menemui pendeta,
menyampaikan kesedihan sekaligus kebimbangannya. Ia bertanya,
"Apakah saya tidak layak lagi melayani karena keluarga saya
berantakan?" Pemuda ini tidak sendirian. Banyak orang tidak yakin
pada dirinya akibat bayang-bayang gelap keluarganya.
Alkitab menyingkapkan dengan jujur kehidupan Hosea. Gomer, perempuan
yang dinikahinya, tidak setia. Dari tiga anak yang dilahirkannya,
hanya si sulung yang membawa benih Hosea. Dari nama-nama mereka,
tercermin bahwa kedua anak berikutnya bukan keturunan nabi itu (ayat
6 dan 9). Hosea harus menelan kenyataan pahit memiliki anak-anak
dari buah perzinahan istrinya. Namun, dengan cara-Nya, Tuhan memakai
situasi kelam itu sebagai gambaran ketidaksetiaan Israel kepada-Nya.
Sekaligus, kesetiaan Hosea melukiskan kasih dan kesetiaan Tuhan
sendiri. Artinya, dalam segala keburukan kondisi keluarganya, Tuhan
tetap memakai Hosea.
Dalam kenyataan, banyak keluarga berantakan karena ada anggota
keluarga yang "tidak berjalan di relnya". Suami yang masuk penjara.
Istri yang berselingkuh. Ayah yang pemabuk. Anak yang terjerat
narkoba. Akibatnya, anggota keluarganya harus menelan kenyataan
pahit. Namun, apa mereka tidak layak diberi peran karenanya? Apakah
adil jika mereka ikut "dihukum"? Syukurlah, Tuhan tidak terhalang
memakai hamba-Nya walau ada latar belakang keluarga yang hitam.
Kalau Tuhan saja tidak, mestinya kita juga tidak --PAD
TIDAK ADA KEGELAPAN
YANG DAPAT MENGHALANGI TERANG TUHAN BERSINAR
Hosea 1:2-9
2 Ketika TUHAN mulai berbicara dengan perantaraan Hosea,
berfirmanlah Ia kepada Hosea: "Pergilah, kawinilah seorang
perempuan sundal dan peranakkanlah anak-anak sundal, karena
negeri ini bersundal hebat dengan membelakangi TUHAN."
3 Maka pergilah ia dan mengawini Gomer binti Diblaim, lalu
mengandunglah perempuan itu dan melahirkan baginya seorang anak
laki-laki.
4 Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Hosea: "Berilah nama Yizreel
kepada anak itu, sebab sedikit waktu lagi maka Aku akan
menghukum keluarga Yehu karena hutang darah Yizreel dan Aku akan
mengakhiri pemerintahan kaum Israel.
5 Maka pada waktu itu Aku akan mematahkan busur panah Israel di
lembah Yizreel."
6 Lalu perempuan itu mengandung lagi dan melahirkan seorang anak
perempuan. Berfirmanlah TUHAN kepada Hosea: "Berilah nama
Lo-Ruhama kepada anak itu, sebab Aku tidak akan menyayangi lagi
kaum Israel, dan sama sekali tidak akan mengampuni mereka.
7 Tetapi Aku akan menyayangi kaum Yehuda dan menyelamatkan mereka
demi TUHAN, Allah mereka. Aku akan menyelamatkan mereka bukan
dengan panah atau pedang, dengan alat perang atau dengan kuda
dan orang-orang berkuda."
8 Sesudah menyapih Lo-Ruhama, mengandunglah perempuan itu lagi dan
melahirkan seorang anak laki-laki.
9 Lalu berfirmanlah Ia: "Berilah nama Lo-Ami kepada anak itu,
sebab kamu ini bukanlah umat-Ku dan Aku ini bukanlah Allahmu."
Ditulis oleh penulis-penulis Indonesia
Diterbitkan dan Hak Cipta (c) oleh Yayasan Gloria
Jumat, 29 April 2011
PANTASKAH
Bacaan : Amsal 31:1-9
Setahun: 1 Tawarikh 3-5
Nats: Tidaklah pantas bagi raja, hai Lemuel, tidaklah pantas bagi raja
meminum anggur, ataupun bagi para pembesar mengingini minuman
keras (Amsal 31:4)
Sari berang. Istri pendeta tadi menegurnya di gereja, karena ia
mengenakan kaus dan rok mini ketika mengikuti ibadah Minggu. "Kita
perlu berpakaian pantas saat beribadah, " kata istri sang pendeta.
Di dalam hati Sari mengumpat, "Apanya yang tidak pantas? Tidak
bolehkah aku mengikuti perkembangan mode? Apakah menurut Alkitab,
memakai rok mini itu dosa?"
Pantas artinya cocok, sesuai, patut, atau layak. Berbicara soal
kepantasan tidak selalu berkaitan dengan dosa. Ini menyangkut hikmat
dalam membawa diri, sesuai dengan status dan lingkungan. Di Israel,
misalnya, tidak ada larangan bagi raja untuk meminum anggur. Rakyat
jelata pun biasa minum anggur sampai mabuk guna melupakan sejenak
susahnya hidup (ayat 6, 7). Dalam pesta perjamuan raja, minum anggur
adalah hal biasa. Namun, Lemuel dinasihati ibunya untuk tidak
meminum anggur. "Tidaklah pantas bagi raja meminum anggur, "
katanya. Mengapa? Minuman keras bisa memabukkan. Jika seorang kepala
negara mabuk, ia tidak dapat memutuskan perkara dengan benar dan
adil. Akibatnya, rakyat bisa menjadi korban ketidakadilan dan
penindasan!
Bicara soal kepantasan bukan melulu mempersoalkan benar salahnya
suatu tindakan. Ada hal yang tidak salah, tetapi tidak pantas
dilakukan oleh seorang dengan status atau jabatan tertentu. Orang
bisa tersandung jika melakukannya. Setiap kita berstatus "orang
kristiani". Sebagian lagi bahkan pemimpin kristiani.
Sering-seringlah bertanya pada diri sendiri: Sudahkah saya bersikap,
berperilaku, berbicara dan berpenampilan pantas, sesuai status yang
saya sandang? --JTI
HANYA ANAK KECIL YANG SELALU BERTANYA "BOLEH ATAU TIDAK"
SEORANG DEWASA PERLU BERTANYA "PANTAS ATAU TIDAK"
Amsal 31:1-9
1 Inilah perkataan Lemuel, raja Masa, yang diajarkan ibunya
kepadanya.
2 Apa yang akan kukatakan, anakku, anak kandungku, anak nazarku?
3 Jangan berikan kekuatanmu kepada perempuan, dan jalanmu kepada
perempuan-perempuan yang membinasakan raja-raja.
4 Tidaklah pantas bagi raja, hai Lemuel, tidaklah pantas bagi raja
meminum anggur, ataupun bagi para pembesar mengingini minuman
keras,
5 jangan sampai karena minum ia melupakan apa yang telah
ditetapkan, dan membengkokkan hak orang-orang yang tertindas.
6 Berikanlah minuman keras itu kepada orang yang akan binasa, dan
anggur itu kepada yang susah hati.
7 Biarlah ia minum dan melupakan kemiskinannya, dan tidak lagi
mengingat kesusahannya.
8 Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang
yang merana.
9 Bukalah mulutmu, ambillah keputusan secara adil dan berikanlah
kepada yang tertindas dan yang miskin hak mereka.
Ditulis oleh penulis-penulis Indonesia
(c) oleh Yayasan Gloria
Setahun: 1 Tawarikh 3-5
Nats: Tidaklah pantas bagi raja, hai Lemuel, tidaklah pantas bagi raja
meminum anggur, ataupun bagi para pembesar mengingini minuman
keras (Amsal 31:4)
Sari berang. Istri pendeta tadi menegurnya di gereja, karena ia
mengenakan kaus dan rok mini ketika mengikuti ibadah Minggu. "Kita
perlu berpakaian pantas saat beribadah, " kata istri sang pendeta.
Di dalam hati Sari mengumpat, "Apanya yang tidak pantas? Tidak
bolehkah aku mengikuti perkembangan mode? Apakah menurut Alkitab,
memakai rok mini itu dosa?"
Pantas artinya cocok, sesuai, patut, atau layak. Berbicara soal
kepantasan tidak selalu berkaitan dengan dosa. Ini menyangkut hikmat
dalam membawa diri, sesuai dengan status dan lingkungan. Di Israel,
misalnya, tidak ada larangan bagi raja untuk meminum anggur. Rakyat
jelata pun biasa minum anggur sampai mabuk guna melupakan sejenak
susahnya hidup (ayat 6, 7). Dalam pesta perjamuan raja, minum anggur
adalah hal biasa. Namun, Lemuel dinasihati ibunya untuk tidak
meminum anggur. "Tidaklah pantas bagi raja meminum anggur, "
katanya. Mengapa? Minuman keras bisa memabukkan. Jika seorang kepala
negara mabuk, ia tidak dapat memutuskan perkara dengan benar dan
adil. Akibatnya, rakyat bisa menjadi korban ketidakadilan dan
penindasan!
Bicara soal kepantasan bukan melulu mempersoalkan benar salahnya
suatu tindakan. Ada hal yang tidak salah, tetapi tidak pantas
dilakukan oleh seorang dengan status atau jabatan tertentu. Orang
bisa tersandung jika melakukannya. Setiap kita berstatus "orang
kristiani". Sebagian lagi bahkan pemimpin kristiani.
Sering-seringlah bertanya pada diri sendiri: Sudahkah saya bersikap,
berperilaku, berbicara dan berpenampilan pantas, sesuai status yang
saya sandang? --JTI
HANYA ANAK KECIL YANG SELALU BERTANYA "BOLEH ATAU TIDAK"
SEORANG DEWASA PERLU BERTANYA "PANTAS ATAU TIDAK"
Amsal 31:1-9
1 Inilah perkataan Lemuel, raja Masa, yang diajarkan ibunya
kepadanya.
2 Apa yang akan kukatakan, anakku, anak kandungku, anak nazarku?
3 Jangan berikan kekuatanmu kepada perempuan, dan jalanmu kepada
perempuan-perempuan yang membinasakan raja-raja.
4 Tidaklah pantas bagi raja, hai Lemuel, tidaklah pantas bagi raja
meminum anggur, ataupun bagi para pembesar mengingini minuman
keras,
5 jangan sampai karena minum ia melupakan apa yang telah
ditetapkan, dan membengkokkan hak orang-orang yang tertindas.
6 Berikanlah minuman keras itu kepada orang yang akan binasa, dan
anggur itu kepada yang susah hati.
7 Biarlah ia minum dan melupakan kemiskinannya, dan tidak lagi
mengingat kesusahannya.
8 Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang
yang merana.
9 Bukalah mulutmu, ambillah keputusan secara adil dan berikanlah
kepada yang tertindas dan yang miskin hak mereka.
Ditulis oleh penulis-penulis Indonesia
(c) oleh Yayasan Gloria
Langganan:
Postingan (Atom)